Keuntungan di Balik Implementasi Aturan TKDN 30 Persen

JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menjelaskan keuntungan yang akan didapat oleh Indonesia dibalik aturan TKDN untuk smartphone 4G LTE yang telah diresmikannya bersama dua menteri lainnya, yakni Menteri Perindustrian (Menperin) dan Menteri Perdagangan (Mendag). Salah satu alasan di balik itu adalah agar Indonesia bisa menekan impor produk smartphone.

\n

Saat meresmikan aturan ini, Menkominfo Rudiantara ditemani oleh Mendag Racmad Gobel dan Menperin Saleh Husin. Ketiga menteri tersebut secara resmi sepakat menandatangi aturan TKDN untuk ponsel 4G LTE sebesar 30 persen yang akan diberlakukan mulai 1 Januari 2017.

\n

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan, berdasarkan data yang dimilikinya pada tahun 2012, Indonesia melakukan impor smartphone sekira 70 juta unit. Akan tetapi angka tersebut turun dengan persentase sekira 23 persen menjadi 54 juta unit pada 2014.

\n

“Kita harapkan ini akan berkembang terus sehingga perekonomian Indonesia akan semakin baik,” ucap Saleh.

\n

Menguatkan pernyataan Saleh, Menkominfo Rudiantara mengatakan nilai impor smartphone di Indonesia mencapai USD3,5 miliar. Nilai itu, lanjut Rudi, berkontribusi pada defisit transaksi perdagangan.

\n

“Karenanya, melalui TKDN sebesar 30 persen ini, nilai impor harapanya bisa berkurang hingga 30 persen pada 2017,” ucap Rudiantara saat menggelar jumpa pers mengenai pengesahan aturan TKDN untuk ponsel di kantor Kemenkominfo, Jakarta 3 Juli 2015.

\n

Rudiantara juga mengatakan, melalui penerapan TKDN ini, pemerintah ingin lebih memberdayakan bangsa dengan meningkatkan aspek brainware (pengguna).

\n

“Kita tidak akan lagi fokus kepada dari hardware tetapi lebih menuju value lainnya yang bisa dibuat oleh bangsa Indonesia,” ucap Rudiantara.

\n

Diamini juga oleh Mendag Rachmat Gobel, dengan aturan ini pemeritah berharap Indonesia ke depannya tidak lagi hanya dilihat sebagai pasar yang menggiurkan oleh para vendor smartphone. “Kita tidak lagi hanya dijadikan pasar untuk mengimpor produk-produk smartphone itu ke sini,” ucap Rachmat.

\n

Rachmat menyatakan, melalui kebijakan ini dirinya ingin mendorong bangsa Indonesia agar juga memiliki added value, sehingga tidak hanya dilirik sebagai pasar yang empuk saja, melainkan juga bisa membangun bahkan memproduksi sendiri, baik hardware maupun software (konten).

\n

“Saya yakin bangsa kita mampu melakukannya, banyak anak mudah hebat yang telah menciptakan banyak hal luar biasa. Mereka butuh dorongan. Ditambah lagi kita memiliki pasar yang besar, disitulah kekuatuan lain milik kita,” pungkas Rachmad.

\n

Share this Post:

We provide best consulting services. Meet our Experts and Get Free Consulting! Contact Now